Menangis...
Mengingat Allah, Hati Menjadi Tenang...

Hati adalah organ tubuh manusia yang sangat penting. Hati itu tak ubahnya seperti sebuah besi, dia akan berkarat apabila lama tak bertemu asahan atau lama bercampur dengan udara lembab. Hati adalah tanaman hijau yang membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya sebaliknya tumbuhan itu akan layu dan mati bila tidak mendapatkan air. Sedangkan manusia sang pemilik hati itu selalu dikelilingi oleh musuh dalam kehidupannya. Nafsu amarahnya yang selalu membawanya pada kehancuran, begitu juga dengan nafsu dan syetan selalu mengiringinya dan selalu siap sedia menggodanya disetiap kesempatan. Sehingga untuk membendung serangan-serangan itu manusia harus membentengi hatinya dengan Zikr kepada Allah SWT.
Sesungguhnya seseorang hamba tidak akan pernah melakukan segala jenis dosa baik dosa besar maupun dosa kecuali dia berada dalam keadaan lalai dalam mengingat Allah. Kelalaian adalah pintu gerbang bagi syetan untuk masuk kedalam hati manusia. Ketika seseorang lalai dalam mengingat Allah syetan akan menguasai dirinya dengan mudah. Sehingga dia terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan dosa yang menjadi sumber dari segala sumber kegelisahan dan kesengsaraan itu. Allah SWT telah menyatakan hal ini dengan jelas dalam firmanNya,
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya dalam neraka dalam keadaan buta.”(Thaaha:124).
Lalu mengapakah kita terkadang masih merasakan gelisah yang tidak menentu padahal setelah sholat kita selalu berzikir kepada Allah? Sesungguhnya zikir itu tidak hanya terbatas dilakukan sehabis sholat sebagaimana yang biasa kita lakukan. Kemudian selepas sholat kita lupa dengan Allah yang maha perkasa dalam membolak-balikkan hati. Lupa dengan perintahnya kemudian terjerumus kedalam lembah larangannya. Sesungguhnya zikir adalah selalu mengingat Allah dalam situasi apapun. Susah dan senang selalu menyertakan Allah di dalamnya.
Inilah ciri-ciri orang yang beruntung dan mendapatkan ketenangan hati yang disebutkan Allah dalam firmannya, “Dan banyak-banyaklah mengingat Allah supaya kamu memperoleh keberuntungan.” (Al Anfaal:45). Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Dan laki-laki dan wanita yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab:35).
Imam ibnu Taimiyah memberikan gambaran yang sangat indah terhadap urgensi zikir bagi hati. Dia berkata, “Zikr bagi hati bagaikan air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan apabila berpisah dari air?”
Imam Hasan Al Basri pernah berucap, “ Carilah kenikmatan iman pada tiga hal; dalam sholat, zikr dan membaca Al Qur’an. Jika kamu mendapatkannya (maka beruntunglah kamu) jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah tertutup.”
Dzikir adalah kehidupan bagi hati dan kelapangan dada. Dia adalah tempat mengadu dikala derita dan tempat berbagi dikala suka. Sebesar apapun beban yang dipikul akan terasa ringan jika selalu mengingat Allah. Karena kita yakin bahwa Allah SWT tidaklah memberikan cobaan yang berada diluar kemampuan hambanya. Dengan membiasakan hati berzikir kepada Allah akan membuat hati ini merasa aman dari segala bentuk kegelisahan dan kejahatan makhlukNya.
Dikala kita terus mengingatNya disaat itulah hati kita akan dipenuhi oleh perasaan tenang karena segala yang terjadi merupakan skenario Allah SWT atas hambanya sedangkan kewajiban kita hanyalah menjalani skenario itu dengan baik. Ingatlah selalu akan firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.(Ar Ra’du:28) - Sumber
– peace & love –
sore sore batuk batuuuukk
cerita mengharukan. banyak pelajarannya :')
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang
dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep
dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun
profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu,
mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum
Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah
satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi,
meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf
diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah
kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak
didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud
menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan
Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari
satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil
untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah
mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu
betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani
secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol
jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata
wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama
besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu
nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali
menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini
”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek
minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan
perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali
ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya
super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada
keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif
menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya
penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit
berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut
membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!”
kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir,
mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak
lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa
ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.
”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.”
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah
punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang
oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor
barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia
adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut,
Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya
sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil
terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di
tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,
berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya
ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga
kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya
mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini
konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.
Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas
tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,
lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan
Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..”
Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan
tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang
menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang
amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan
ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang
disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan
kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan
mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH
HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.
Cinta...
Subhanallah.. indah sekali.. puisi ini laksana air yang mengalir untukMu Tuhan....
Sumber: click here
ah, tidak...
assalamualaikum teman,
hari ini sudah hari jum'at. cepat sekali. tak tahu mengapa, kalau hari jum'at selalu ada perasaan semangat dalam hati tersendiri. entahlah mengapa. mungkinkah semangat itu semangat weekend?hihi bisa jadi.
kemarin malam, badanku panas. mencapai 39.7°C Astagfirullah...
padahal rencanaku hari ini ingin bangun lebih pagi dari biasanya. dan ternyata.... aku telat. gerbang paginya sudah di buka. ah, tak masalah. toh, aku masih bisa menghirup segarnya angin pagi dan merasakan indahnya gerbang pagi di buka. subhanallah subhanallah subhanallah..
kalau kalian penasaran, cek saja sendiri. beranikan dirumu untuk mencoba hal baru yang membuat kau penasaran. rasanya jauuuuh lebih baik kalau kau tidak mencoba itu sendiri. ya, anggap saja itu sesuatu yang kamu suka dan berubah jadi hobi. aku jadi terbiasa untuk duduk di genteng dan merasakan KuasaNya. pagi ataupun sore:)
tapi seandainya kau masih tak berani untuk manjat dan duduk di genteng, kau bisa hanya melongok dari jendela kamarmu saja. (walau aku rasa itu tak cukup indah) tenang... indah yang akan kau rasakan itu ada waktunya. waktunya adalah, saat kau merasakan betapa banyaknya CiptaanNya yang bersujud padaNya..
aku tak bisa menceritakan semua. karna ini menyangkut masalah perasaan dan emosimu. setidaknya, kau bisa meneteskan airmata jika itu sudah masuk ke hatimu. Subhanallaaaaaaah.......
jujur kalau sudah di atap, ingin rasanya aku loncat tinggi dan berteriak sekeras2nya. dan jujur saja, di atap aku seperti menemukan siapa aku sebenarnya. dan aku sering berdiam diri merenungkan banyak hal di sana. aku juga sering meneteskan airmata di sana. di temani suara kicauan burung dan sinar mentari, itu yang buatku nyaman.. nyaman sekali....
aku tidak akan bosan untuk menulis laporan gerbang pagi yang ku lihat padamu. tapi mungkin besok sampai 2hari kedepan aku tidak bisa melaporkan dulu, karna aku harus menghadiri pengajian 1thn akungku yang sudah kembali denganNya. hu hu hu kenanganku bersamanya banyak sekali.. ah, aku jadi ingat.
sudah ya.. kau harus mencobanya!!
:)
apa maksudmu?!
aku nggak ngerti gimana jadinya..? aku salah. kau berhak marah. kau marahlah sepuasmu. aku terima karena aku salah.
aku nggak mau apa-apa. aku hanya ingin membuat perubahan yang besar karnaNya. karnamu dan karna diriku.
apa yang harus ku katakan? aku nggak bisa ngomong apa2 lagi. AAAAAAAAAAAAAAAAAARGGGGGGGGGGGGHHHHH rasanya gerah sekali dalam dada.
astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullaaaaaahh...........
The One...
assalamualaikum...
teman, apa kabar hari ini?
aku tidak begitu baik. fisik maupun hatiku. sedang mendung akhir2 ini. rasanya airmata terus mengalir deras tanpa di sadari.
apalah yang akan ku perbuat sekarang? tak ada. hah, Indahnya Hidupku ini.
kenapa aku? tak tahulah.... Hanya Engkau Yang Tahu.
sepatah....
assalamualaikum..
waah pagi ini aku telat untuk lihat deti2 gerbang pagi dibuka. pas aku sampai genteng, gerbang paginya sudah di buka. tak apalah, walau telat toh aku masih bisa merasakan betapa berjuta2 puluh ribunya Tuhan memberi kita Nikmat. Alhamdulillaaaaaah...
pagi ini, saat aku menikmati indahnya KuasaNya, aku sedikit merasakan ada yang beda dari diriku. ya, aku mulai drop lagi. aku down lagi. ah, mengapa ini terjadi. sudahlah, masih ada Dia Yang Maha Menemani. Dia masih akan terus memperingatiku kala aku berbuat salah. dan aku percaya itu. Alhamdulillaah...
semoga apa yang aku rasakan pagi ini tidak berlanjut ke pagi2 berikutnya. karna kalian tahu? aku lebih suka pagi (dari jam 3AM-7AM) daripada malam. walau aku senang melihat bintang dan bulanNya.
Ya Raaaaaaabbb....... ingin rasanya ku berteriak..
mengeluarkan semua yang ada di hati. ah, Kau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. aku akan berteriak saja dalam hati. selagi aku masih bisa menghirup nafasMu. Ya Rabb.. Bimbing aku... Bimbing hambaMu yang hina ini. menjadi hambaMu yang beruntung Dunia dan Akhirat.
amin amin amin
pagi...
met pagi...
sahabatku.........
Bismillahirahmanirahim
Aku telah mengecewakanmu. Maafkan aku.
untukmu, disana......
Bismillahirahmanirahim…
Masihkah kau anggap aku tak ada?
Itukah maumu?
Baik, aku tidak akan mengganggumu sampai kapanpun kau mau. Kalau perlu, kau anggap saja aku orang lain yang tidak patut di temani. Aku memang tidak patut untuk di ajak bercerita. Untuk di ajak bernyanyi bersama. (ingatkah kau saat kita menyanyikan band favorit kita? Westlife.) Aku memang tidak patut tinggal disini. Dan terlebih, aku mungkin memang tidak patut hidup.
Tahukah kau? Aku sudah berusaha menjauh dari yang kau-baca-saat-itu. Dan aku berhasil melakukannya.
Memang bodohlah aku saat itu. Memang hina sekali aku saat itu. Aku memang benar2 tak sadar melakukannya. Dengan kelabilanku, aku melupakan apa yang harusnya tak boleh kulakukan.
Selebihnya, aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Tak berani mendekat. Tak berani menyapa. Tak berani memberikan mukaku karna aku malu!!!!!
ya Rabb...
Bismillahirahmanirahim
Apakah kau akan memmaafkanku, seorang manusia yang sangat sangat hina. Sangat sangat munafik?
Apakah kau akan memaafkan aku, seorang manusia yang terlampau dengan nikmatMu. Yang suka melupakanMu?
Apakah kau memaafku, seorang manusia yang seringkali berjanji dan tak di tepati?
Apakah kau akan memaafkanku, seorang manusia yang hanya bisa mengecewakan orang tua? Mengecewakan semua orang di sekitarku?
Untuk kesekian kalinya, aku memohon ampun padaMu. Aku memohon ampuMu. Aku memohon maafMu.
Ya Rabb……..
Untuk kesekian kalinya, aku mengharapkan MaafMu. MaafMu. RidhoMu. AmpunMu.
Aku mohon…..
Bismillahirahmanirahim
Entah apa lagi yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa diam menunggu ia menyapaku kembali. Andai dia masih mau menoleh padaku. Kalau tidak?
Ahh…..
Atas kelakuanku yang membuatmu marah. Yang membuatmu terkhianati atau…. Apalah.
Aku minta maaf padamu untuk kesekian kalinya.
Inilah aku. Sekali lagi aku katakan, aku hanyalah seorang manusia dekil yang bergelumut dengan dosa dan kesalahan. Aku bukan seorang yang sama seperti yang kau bayangkan. Banyak kelemahan yang ku miliki. Banyak dosa2 yang ku miliki. Mungkin lebih banyak dari kau.
Maafkan aku. Maafkan aku.
Bismillahirahmanirahim
Sudahlah. Aku mulai sadar bahwa manusia memang tidak lepas dari kesalahan. Manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Sampai saat ini aku masih diam membungkam. Entah kepada siapa lagi aku bisa tersenyum lepas dan melupakan hal yang terjadi padaku saat ini.
Tapi, inilah aku.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
bismillahirahmanirahim...
hujan kali ini menguak banyak inspirasiku untuk banyak membuat 'kata-kata'. sadar bahwa hujan sore ini membuat banyak keraguan. datang silih berganti. tak jelas kapan dan dimana hujan akan berhenti. aku tahu, mungkin kalian bingung, tapi aku menyisipkan suatu pesan pada tulisan ini:
Pertemuan. Perpisahan. Kehidupan. Kematian. Tawa. Airmata. Bahagia. Nestapa. Aku. Dia. Kita. Semua...
semoga ini bermanfaat :)
akhirnya...
siang yang sejuk
malam kosong
yuuk belajar bersyukur..
alhamdulillah..
menunggu kepastian...
kalian tahu, besok aku akan mengetahui nasibku. nasib UNku. nasib nilaiku.
aku akan mengetahui betapa besarnya kemampuanku dengan orang-orang sekitar. dengan teman-temanku.
aku tahu, mungkin aku sedikit agak berlebihan dengan memikirkan hal itu. tapi kalian tahu, esok hari adalah penentuan aku lulus atau tidak. aku sudah mencoba cerita agar aku merasa sedikit lebih 'baikan'. dan hasilnya............... pasrahlah yang akan menenangkannya.
aku akan belajar pasrah dengan menunggu keputusan sampai besok. aku akan menenangkan diriku dengan sehela naps dan memikirkan hal yang positif.
semoga aku bisa.
semoga aku lulus.
semoga aku pasrah.
salam dan doa untuk diriku.
posotif thinking dan keep praying:)
kosong..
berasa berbulan2 ga post blog tersayang lagi.. padahal pas di liat2 baru tadi pagi terakhir post blog . hihi
kali ini han agak sedikit bingung. mau nulis apa? mau mencurahkan apa??
karna han merasa ada yg kosong. berusaha meraba2 apa yg terjadi, tapi belum ketemu. knp ya aku?? ada yg punya saran??
sebenernya, ga begitu penting han nulis di blog ini dan memberitahukan kpd kamu semua kalo han lagi merasa hampa, tapi han jd ngerasa han ga ada disni. han lagi melancong ke negri yg jauuh.. *weeesss* hahaha
besok hari pertama aku sekolah. hari pertama aku memulai keseharianku yg baru. yg penuh dgn tulisan, kesibukan dan... aaaagghh !!!! pusssiiing...
saat ini ga tau aku lg ngerasa apa. ada yg hilang dariku. ngeliat baju seragamku yg baru aja ga cukup buat aku semangat. ga cukup buat aku bisa menemukan isi hatiku sekarang. ada yg bisa bantu aku carikan??
yaaaah.. mana mungkin !!! karna hanya akulah yg bisa cari dan temukan itu.
hanya berharap semoga besok bisa bantu aku temukan itu. sehingga aku bisa mengetahuinya dan mencurahkan semua disini.
hari pertama sekolah yg aku harap bisa memulihkan keadaanku yg memamng ga begini sebelumnya. dan kamu !!! hibur aku dan kembalikan aku dari kondisiku saat ini.
amieen..
terimakasih !
hai...
selasa pagi.....
pagi ini. 4 mei 2010. 2 hari menjelang mabit. 3 hari menjelang pengumuman.
just wanna say,
start your day with smile and.....
masalah.....buat kita lebih dekat denganNya.
masalah yang kita punyapun sama seperti itu. kaupun dengan sendirinya akan tahu bagaimana kau menyelesikan masalah itu. dan perlu diingat, dimanapun kau berada, disitulah masalah pun ada. kau hanya perlu sedikit lebih 'peka' terhadap ada yang terjadi di sekitarmu. dan kepada dirimu sendiri tentunya.
masalah juga sebagai tombak ukur kedewasaanmu. dimana kamu memikirkan jalan keluarnya dengan sikap dan pemikiran yang logis. masuk akal. pemikiran itu bisa di dapat asalkan kalian tetap yakin pada kemampuan diri kalian masing-masing. dan tentunnya selalu berfikiran positif.
masalahpun juga bisa menjadi sebuah intropeksi diri. ketika kamu merasa kamu lebih baik 'apapun' dibandingkan oranglain. masalah muncul. kunci pertama, ketahuilah bahwa masalah muncul ketika kau memikirkan bahwa kau lebih baik 'apapun' ketimbang oranglain. itu yang perlu kita koreksi. jangan merasa lebih baik 'apapun' dari oranglain, sebelum masalah datang menegurmu!
dan kau perlu yakin, Dia memberi masalah karena Dia ingin kau selalu mengingatNya. selalu memujaNya. dan selalu taat denganNya.
dan.. aku percaya itu.
akhir-akhir ini aku mengalami banyak masalah yang melibatkan karakter kita keluar. dimana orang2 yang terlibat dalam masalah itu mengeluarkan semua karekter yang mereka miliki dengan berbagai cara. dengan emosi ataupun dengan sikap cuek.
sikap emosi dalam masalah ini jelas tidak akan menyelesaikan semua. yang ada hanyalah segumpal amarah yang terbentuk karena pemikiran yang salah dari masalah ini.
ataupun sikap cuek yang seharusnya dihindari malah muncul. kamu tahu? sikap cuek dalam masalah juga tidak akan menyelesaikan masalah kita. yang ada kita malah banyak mendapati masalah yang bertubi-tubi. bukan jalan keluar.
nah, dalam masalahku ini. aku dan orang2 yang terlibat didalamnya memperebutkan hak mereka sebagai manusia yang demokratis. artinya, hak kita memiliki sesuatu sudah di atur di dalamnya. kenapa kita memperebutkan masalah yang terkesan 'kecil' itu?
jawabannya adalah: kami minta saling dihargai.
seandainya kamu memiliki barang tertentu yang memang menjadi hakmu. tapi dengan tiba2 segerombolan orang di sekitarmu mencuri hakmu itu. apa yang kamu lakukan?
marah? kesel? wajar. akupun melakukannya.
tapi dengan sikapmu yang seperti itu tadi yang tidak akan menyelesaikan masalah. apalagi masalah ini kamu alami dengan seorang yang lebih muda darimu. ya, adik kelasmu. apakah benar sikap marahmu?







