Dibawah langit-Mu bersujud memuji memuja Asma-Mu
Dan bertasbih semua makhluk-Mu tunduk mengharap cinta dan kasih-Mu
Cahaya Illahi hangatnya dihati
Di langkah sejuta wajah terbata penuh salah
Jalani sang hidup terluka, terhempas, berdosa
Subhanallah... Subhanallah... 7x
Hitam putih jalan hidup
Pahit getir warna dunia
Tangis tawa rasa hati
Terluka atau bahagia
Rasa bangga sementara
Setiap duka tak abadi
Semua wajah kan di uji
Pada Allah kita kan kembali
Ketika Cinta.........
Aku........
Time Has Wings
Do not waste any of life’s precious time.There is something to be gathered out of each moment.
We’re here for a little while. We’re only passing by.Time has wings and the golden moments quickly fly.
God will help you...
"Life is great opportunity provided by the Lord for his children to evolve into himself.Understand the purpose of the Almighty in every station of your life.
Remember: All your talents, All your possessions are gifts from God.God has given you all these to serve the poor, the destitute and the suffering.
When you’re in great distress, call for God’s help from the very core of your heart.Be sincere, Pray fervently. You will get His help."
Everything Passes By...
Everything in life is temporary. Darkness of the night or a bright day. Even sunrise is temporary, so is sunset.
So if things are going good, enjoy it because it won’t last forever. And if things are going bad, don’t worry. Because it won’t last forever either.
Everything passes by.
Entahlah...
.......
rasa...
hmmmmm
Hidup itu..
LIBURAAAN??
2. Sorry Sorry Sorry. cuma 1 kata itu yang bisa aku ungkapin sekarang. maafin aku yaa kalo aku emang suka nyakitin hati kalian. buat kalian kesel. nangis bahkan mungkin benci sama aku. sungguh, aku nggak tau gimana kalo aku kehilangan temen2 kayak kalian huhuhu. it's gonna be end the world.
3. ONE THING!! AKU SAYANG BANGET SAMA KALIAN.. YOU MADE ME LIKE THIS FRIENDS :')




maaf yaa teman sekali lagi huhuhu I LOVE YOU ALL GUYS.
tanpa isi
Kenapa lagi aku..?
Di bawah LangitMu ku bersujud... sembah... (Opick)
Subhanallah......
Terulang Lagi...
malam ini..........

Mereka ... yang diam dilupakan.
Mereka .. yang tidak maju kembali jatuh.
Mereka .. yang stop adalah jarak, dilumatkan.
Mereka .. yang berhenti tumbuh menjadi lebih kecil.
Mereka .. yang meninggalkan pergi, menyerah.
Ketika Anda memutuskan untuk berdiri diam dalam hidup,
Anda menandai awal dari akhir Anda.
semoga kalian mengerti maksudnya. camkan itu baik2 teman.
"Life Begins Everyday"
"Do not say everything would be so senseless.See the lonely rose bud in garden as it blossoms in the winter.
Inspite of all the frost, the cold, For it - life begins every day. It develops slowly like the bud, opens carefully the delicate petals, ventures, and then shines strongly.
Remember, even in the time of devastation, Life begins everyday."
Cerita Bermakna...
20.000/Jam (sedih!!)

bismillahirahmanirahim...
Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.
“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”
“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”
Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”
Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.
Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.
“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”
Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”
Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.
Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.
“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”
Dengan Segelas Susu....
| bismillahirahmanirahim.. Suatu hari seorang bocah perempuan miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang. Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya.
|
Kabayan dan Profesor
bismillahirahmanirahim..
Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, “Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?”
Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta.
Hal ini membuat Profesor menjadi gusar. Katanya, “Kabayan, ayo kita main
tebak-tebakan!Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa
menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000, Tetapi kalau kau bisa
menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000.”
Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu.
Profesor melanjutkan, “Kemudian, kau ajukan pertanyaan padaku. Kalau
aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp. 5.000. Tapi kalau aku tak
bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000, Bagaimana?”
Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, “Baik kalau begitu. Sekarang
ajukan pertanyaanmu.”
“Ok,”sahut profesor dengan cepat. “Pertanyaanku, berapa jarak yang
tepat antara bumi dan bulan?”
Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. Ia langsung merogoh
sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,pada profesor. Dengan gembira Profesor
menerima uang itu, “Nah, sekarang giliranmu.”
Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Binatang apa yang sewaktu
mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?”
Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan
coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop,
menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai
situs ensiklopedi. Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia
menyerah.
Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp. 50.000 pada Kabayan yang
menerimanya dengan hati senang.
“Hai, tunggu dulu!” profesor itu berteriak. “Aku tidak terima. Apa
jawaban atas pertanyaanmu tadi?”
Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku
celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.
Smiley…! Jangan menganggap orang lain tidak tahu apa yang kita
ketahui, karena seringkali di balik ketidaktahuannya mereka mengetahui apa
yang tidak kita ketahui.
mengapa harus aku....?
Bismillahirahmanirahim..
Assalamualaikum teman.. Apa kabar? Saat ini aku sedang merenungi suatu hal yang sulit dipercaya akan terjadi. Entah mengapa pikiranku terus bergulir pada kejadian kemarin. Kalian tahu? Aku mengalami sebuah kejadian yang tak terduga. Memang, Dia Maha Perncana. Tak ada yang tahu apa rencanaNya. Tak ada yang mengira apa yang akan Dia Berikan pada kita. Tak ada yang mengira siapa yang akan Dia beri Nikmat.
Kejadian bermula saat aku kesiangan untuk ke Sekolah. Lalu aku mencari jalan sendiri untuk ke Sekolah dengan kendaraan umum. Di jalan aku memang merasakan sesuatu yang buatku berat untuk menopang tangan kananku sendiri. Ada apa ini? Pikirku. Ah mungkin hanya keseleo atau salah tidur hingga tanganku agak berat di angkat. Aku biarkanlah tanganku itu.
Sesampainya di Sekolah, aku kembali merasakan beban di tanganku yang semakin menjadi. Semakin aku masuk ke dalam Sekolah, semakin beratlah tanganku. Allahu Ya Rabb……… Engkau berikan NikmatMu sepagi ini. Alhamdulillah… batinku terus mencoba berpikiran positif dan menghilagkan prasangka buruk. Ahh….. Ya Allah… aku memang selalu Membutuhkan Engkau.
Tak lama kemudian, guruku menyarankan ku untuk ke Abah (seorang yang ahli agama di Sekolahku) dan aku di berikannya air zam zam. Sisanya di usapkan ke tangan kananku yang sakit. Saat di usapkan, ingin rasanya bibirku berteriak! AAAAAAAAAAAAAAAAAAA YA ALLAH…… DEMI ENGKAU!! SAKIIITTTT…… aku berteriak di dalam hati. Lidahku seperti membeku sejenak sehingga tak kuasa untuuk berteriak. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….
Ternyata, tak terduga olehku, di tangan kananku memang seperti ada yang ‘menduduki’ atau ‘mengelantungiku’ Ya Rabb….. mengapa hamba Ya Rabb… setelah itu, aku kembali ke kelas. Melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Tanganku? Masih sakit. Masih berat. Seperti ada orang lain yang tak tampak menggenggam tangan kananku. Dalam hatiku, aku terus berdzikir dan meminta ampun kepadaNya. Astagfirullah………
Di balik kejadian itu, aku mengintropeksi diriku. Menggali kesalahan yang terjadi hingga membuatku mengalami hal itu. Ternyata… aku menemukannya. Memang, manusia sering kali terlampau lupa bahkan melupakan Nikmat Yang Dia Berikan. Terlampau MELUPAKAN apa yang telah ia punya dan SERING KALI tidak bersyukur. Astagfirullahaladzim……… Astagfirullahaladzim………
Menangis...
Mengingat Allah, Hati Menjadi Tenang...

Hati adalah organ tubuh manusia yang sangat penting. Hati itu tak ubahnya seperti sebuah besi, dia akan berkarat apabila lama tak bertemu asahan atau lama bercampur dengan udara lembab. Hati adalah tanaman hijau yang membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya sebaliknya tumbuhan itu akan layu dan mati bila tidak mendapatkan air. Sedangkan manusia sang pemilik hati itu selalu dikelilingi oleh musuh dalam kehidupannya. Nafsu amarahnya yang selalu membawanya pada kehancuran, begitu juga dengan nafsu dan syetan selalu mengiringinya dan selalu siap sedia menggodanya disetiap kesempatan. Sehingga untuk membendung serangan-serangan itu manusia harus membentengi hatinya dengan Zikr kepada Allah SWT.
Sesungguhnya seseorang hamba tidak akan pernah melakukan segala jenis dosa baik dosa besar maupun dosa kecuali dia berada dalam keadaan lalai dalam mengingat Allah. Kelalaian adalah pintu gerbang bagi syetan untuk masuk kedalam hati manusia. Ketika seseorang lalai dalam mengingat Allah syetan akan menguasai dirinya dengan mudah. Sehingga dia terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan dosa yang menjadi sumber dari segala sumber kegelisahan dan kesengsaraan itu. Allah SWT telah menyatakan hal ini dengan jelas dalam firmanNya,
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya dalam neraka dalam keadaan buta.”(Thaaha:124).
Lalu mengapakah kita terkadang masih merasakan gelisah yang tidak menentu padahal setelah sholat kita selalu berzikir kepada Allah? Sesungguhnya zikir itu tidak hanya terbatas dilakukan sehabis sholat sebagaimana yang biasa kita lakukan. Kemudian selepas sholat kita lupa dengan Allah yang maha perkasa dalam membolak-balikkan hati. Lupa dengan perintahnya kemudian terjerumus kedalam lembah larangannya. Sesungguhnya zikir adalah selalu mengingat Allah dalam situasi apapun. Susah dan senang selalu menyertakan Allah di dalamnya.
Inilah ciri-ciri orang yang beruntung dan mendapatkan ketenangan hati yang disebutkan Allah dalam firmannya, “Dan banyak-banyaklah mengingat Allah supaya kamu memperoleh keberuntungan.” (Al Anfaal:45). Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Dan laki-laki dan wanita yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab:35).
Imam ibnu Taimiyah memberikan gambaran yang sangat indah terhadap urgensi zikir bagi hati. Dia berkata, “Zikr bagi hati bagaikan air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan apabila berpisah dari air?”
Imam Hasan Al Basri pernah berucap, “ Carilah kenikmatan iman pada tiga hal; dalam sholat, zikr dan membaca Al Qur’an. Jika kamu mendapatkannya (maka beruntunglah kamu) jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah tertutup.”
Dzikir adalah kehidupan bagi hati dan kelapangan dada. Dia adalah tempat mengadu dikala derita dan tempat berbagi dikala suka. Sebesar apapun beban yang dipikul akan terasa ringan jika selalu mengingat Allah. Karena kita yakin bahwa Allah SWT tidaklah memberikan cobaan yang berada diluar kemampuan hambanya. Dengan membiasakan hati berzikir kepada Allah akan membuat hati ini merasa aman dari segala bentuk kegelisahan dan kejahatan makhlukNya.
Dikala kita terus mengingatNya disaat itulah hati kita akan dipenuhi oleh perasaan tenang karena segala yang terjadi merupakan skenario Allah SWT atas hambanya sedangkan kewajiban kita hanyalah menjalani skenario itu dengan baik. Ingatlah selalu akan firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.(Ar Ra’du:28) - Sumber
– peace & love –
sore sore batuk batuuuukk
cerita mengharukan. banyak pelajarannya :')
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang
dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep
dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun
profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu,
mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum
Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah
satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi,
meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf
diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah
kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak
didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud
menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan
Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari
satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil
untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah
mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu
betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani
secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol
jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata
wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama
besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu
nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali
menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini
”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek
minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan
perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali
ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya
super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada
keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif
menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya
penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit
berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut
membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!”
kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir,
mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak
lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa
ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.
”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.”
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah
punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang
oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor
barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia
adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut,
Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya
sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil
terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di
tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,
berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya
ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga
kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya
mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini
konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.
Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas
tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,
lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan
Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..”
Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan
tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang
menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang
amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan
ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang
disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan
kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan
mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH
HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.
Cinta...
Subhanallah.. indah sekali.. puisi ini laksana air yang mengalir untukMu Tuhan....
Sumber: click here
ah, tidak...
assalamualaikum teman,
hari ini sudah hari jum'at. cepat sekali. tak tahu mengapa, kalau hari jum'at selalu ada perasaan semangat dalam hati tersendiri. entahlah mengapa. mungkinkah semangat itu semangat weekend?hihi bisa jadi.
kemarin malam, badanku panas. mencapai 39.7°C Astagfirullah...
padahal rencanaku hari ini ingin bangun lebih pagi dari biasanya. dan ternyata.... aku telat. gerbang paginya sudah di buka. ah, tak masalah. toh, aku masih bisa menghirup segarnya angin pagi dan merasakan indahnya gerbang pagi di buka. subhanallah subhanallah subhanallah..
kalau kalian penasaran, cek saja sendiri. beranikan dirumu untuk mencoba hal baru yang membuat kau penasaran. rasanya jauuuuh lebih baik kalau kau tidak mencoba itu sendiri. ya, anggap saja itu sesuatu yang kamu suka dan berubah jadi hobi. aku jadi terbiasa untuk duduk di genteng dan merasakan KuasaNya. pagi ataupun sore:)
tapi seandainya kau masih tak berani untuk manjat dan duduk di genteng, kau bisa hanya melongok dari jendela kamarmu saja. (walau aku rasa itu tak cukup indah) tenang... indah yang akan kau rasakan itu ada waktunya. waktunya adalah, saat kau merasakan betapa banyaknya CiptaanNya yang bersujud padaNya..
aku tak bisa menceritakan semua. karna ini menyangkut masalah perasaan dan emosimu. setidaknya, kau bisa meneteskan airmata jika itu sudah masuk ke hatimu. Subhanallaaaaaaah.......
jujur kalau sudah di atap, ingin rasanya aku loncat tinggi dan berteriak sekeras2nya. dan jujur saja, di atap aku seperti menemukan siapa aku sebenarnya. dan aku sering berdiam diri merenungkan banyak hal di sana. aku juga sering meneteskan airmata di sana. di temani suara kicauan burung dan sinar mentari, itu yang buatku nyaman.. nyaman sekali....
aku tidak akan bosan untuk menulis laporan gerbang pagi yang ku lihat padamu. tapi mungkin besok sampai 2hari kedepan aku tidak bisa melaporkan dulu, karna aku harus menghadiri pengajian 1thn akungku yang sudah kembali denganNya. hu hu hu kenanganku bersamanya banyak sekali.. ah, aku jadi ingat.
sudah ya.. kau harus mencobanya!!
:)
apa maksudmu?!
aku nggak ngerti gimana jadinya..? aku salah. kau berhak marah. kau marahlah sepuasmu. aku terima karena aku salah.
aku nggak mau apa-apa. aku hanya ingin membuat perubahan yang besar karnaNya. karnamu dan karna diriku.
apa yang harus ku katakan? aku nggak bisa ngomong apa2 lagi. AAAAAAAAAAAAAAAAAARGGGGGGGGGGGGHHHHH rasanya gerah sekali dalam dada.
astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullah.. astagfirullaaaaaahh...........
The One...
assalamualaikum...
teman, apa kabar hari ini?
aku tidak begitu baik. fisik maupun hatiku. sedang mendung akhir2 ini. rasanya airmata terus mengalir deras tanpa di sadari.
apalah yang akan ku perbuat sekarang? tak ada. hah, Indahnya Hidupku ini.
kenapa aku? tak tahulah.... Hanya Engkau Yang Tahu.
sepatah....
assalamualaikum..
waah pagi ini aku telat untuk lihat deti2 gerbang pagi dibuka. pas aku sampai genteng, gerbang paginya sudah di buka. tak apalah, walau telat toh aku masih bisa merasakan betapa berjuta2 puluh ribunya Tuhan memberi kita Nikmat. Alhamdulillaaaaaah...
pagi ini, saat aku menikmati indahnya KuasaNya, aku sedikit merasakan ada yang beda dari diriku. ya, aku mulai drop lagi. aku down lagi. ah, mengapa ini terjadi. sudahlah, masih ada Dia Yang Maha Menemani. Dia masih akan terus memperingatiku kala aku berbuat salah. dan aku percaya itu. Alhamdulillaah...
semoga apa yang aku rasakan pagi ini tidak berlanjut ke pagi2 berikutnya. karna kalian tahu? aku lebih suka pagi (dari jam 3AM-7AM) daripada malam. walau aku senang melihat bintang dan bulanNya.
Ya Raaaaaaabbb....... ingin rasanya ku berteriak..
mengeluarkan semua yang ada di hati. ah, Kau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. aku akan berteriak saja dalam hati. selagi aku masih bisa menghirup nafasMu. Ya Rabb.. Bimbing aku... Bimbing hambaMu yang hina ini. menjadi hambaMu yang beruntung Dunia dan Akhirat.
amin amin amin
pagi...
met pagi...
sahabatku.........
Bismillahirahmanirahim
Aku telah mengecewakanmu. Maafkan aku.
untukmu, disana......
Bismillahirahmanirahim…
Masihkah kau anggap aku tak ada?
Itukah maumu?
Baik, aku tidak akan mengganggumu sampai kapanpun kau mau. Kalau perlu, kau anggap saja aku orang lain yang tidak patut di temani. Aku memang tidak patut untuk di ajak bercerita. Untuk di ajak bernyanyi bersama. (ingatkah kau saat kita menyanyikan band favorit kita? Westlife.) Aku memang tidak patut tinggal disini. Dan terlebih, aku mungkin memang tidak patut hidup.
Tahukah kau? Aku sudah berusaha menjauh dari yang kau-baca-saat-itu. Dan aku berhasil melakukannya.
Memang bodohlah aku saat itu. Memang hina sekali aku saat itu. Aku memang benar2 tak sadar melakukannya. Dengan kelabilanku, aku melupakan apa yang harusnya tak boleh kulakukan.
Selebihnya, aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Tak berani mendekat. Tak berani menyapa. Tak berani memberikan mukaku karna aku malu!!!!!









