Dibawah langit-Mu bersujud memuji memuja Asma-Mu
Dan bertasbih semua makhluk-Mu tunduk mengharap cinta dan kasih-Mu
Cahaya Illahi hangatnya dihati
Di langkah sejuta wajah terbata penuh salah
Jalani sang hidup terluka, terhempas, berdosa
Subhanallah... Subhanallah... 7x
Hitam putih jalan hidup
Pahit getir warna dunia
Tangis tawa rasa hati
Terluka atau bahagia
Rasa bangga sementara
Setiap duka tak abadi
Semua wajah kan di uji
Pada Allah kita kan kembali
hmmmmm
Hidup itu..
LIBURAAAN??
2. Sorry Sorry Sorry. cuma 1 kata itu yang bisa aku ungkapin sekarang. maafin aku yaa kalo aku emang suka nyakitin hati kalian. buat kalian kesel. nangis bahkan mungkin benci sama aku. sungguh, aku nggak tau gimana kalo aku kehilangan temen2 kayak kalian huhuhu. it's gonna be end the world.
3. ONE THING!! AKU SAYANG BANGET SAMA KALIAN.. YOU MADE ME LIKE THIS FRIENDS :')




maaf yaa teman sekali lagi huhuhu I LOVE YOU ALL GUYS.
tanpa isi
Kenapa lagi aku..?
Di bawah LangitMu ku bersujud... sembah... (Opick)
Subhanallah......
Terulang Lagi...
malam ini..........

Mereka ... yang diam dilupakan.
Mereka .. yang tidak maju kembali jatuh.
Mereka .. yang stop adalah jarak, dilumatkan.
Mereka .. yang berhenti tumbuh menjadi lebih kecil.
Mereka .. yang meninggalkan pergi, menyerah.
Ketika Anda memutuskan untuk berdiri diam dalam hidup,
Anda menandai awal dari akhir Anda.
semoga kalian mengerti maksudnya. camkan itu baik2 teman.
"Life Begins Everyday"
"Do not say everything would be so senseless.See the lonely rose bud in garden as it blossoms in the winter.
Inspite of all the frost, the cold, For it - life begins every day. It develops slowly like the bud, opens carefully the delicate petals, ventures, and then shines strongly.
Remember, even in the time of devastation, Life begins everyday."
Cerita Bermakna...
20.000/Jam (sedih!!)

bismillahirahmanirahim...
Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.
“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”
“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”
Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”
Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.
Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.
“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”
Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”
Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.
Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.
“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”
Dengan Segelas Susu....
| bismillahirahmanirahim.. Suatu hari seorang bocah perempuan miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang. Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi, saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya.
|
Kabayan dan Profesor
bismillahirahmanirahim..
Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, “Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?”
Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta.
Hal ini membuat Profesor menjadi gusar. Katanya, “Kabayan, ayo kita main
tebak-tebakan!Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa
menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000, Tetapi kalau kau bisa
menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000.”
Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu.
Profesor melanjutkan, “Kemudian, kau ajukan pertanyaan padaku. Kalau
aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp. 5.000. Tapi kalau aku tak
bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000, Bagaimana?”
Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, “Baik kalau begitu. Sekarang
ajukan pertanyaanmu.”
“Ok,”sahut profesor dengan cepat. “Pertanyaanku, berapa jarak yang
tepat antara bumi dan bulan?”
Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. Ia langsung merogoh
sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,pada profesor. Dengan gembira Profesor
menerima uang itu, “Nah, sekarang giliranmu.”
Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Binatang apa yang sewaktu
mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?”
Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan
coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop,
menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai
situs ensiklopedi. Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia
menyerah.
Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp. 50.000 pada Kabayan yang
menerimanya dengan hati senang.
“Hai, tunggu dulu!” profesor itu berteriak. “Aku tidak terima. Apa
jawaban atas pertanyaanmu tadi?”
Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku
celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.
Smiley…! Jangan menganggap orang lain tidak tahu apa yang kita
ketahui, karena seringkali di balik ketidaktahuannya mereka mengetahui apa
yang tidak kita ketahui.
mengapa harus aku....?
Bismillahirahmanirahim..
Assalamualaikum teman.. Apa kabar? Saat ini aku sedang merenungi suatu hal yang sulit dipercaya akan terjadi. Entah mengapa pikiranku terus bergulir pada kejadian kemarin. Kalian tahu? Aku mengalami sebuah kejadian yang tak terduga. Memang, Dia Maha Perncana. Tak ada yang tahu apa rencanaNya. Tak ada yang mengira apa yang akan Dia Berikan pada kita. Tak ada yang mengira siapa yang akan Dia beri Nikmat.
Kejadian bermula saat aku kesiangan untuk ke Sekolah. Lalu aku mencari jalan sendiri untuk ke Sekolah dengan kendaraan umum. Di jalan aku memang merasakan sesuatu yang buatku berat untuk menopang tangan kananku sendiri. Ada apa ini? Pikirku. Ah mungkin hanya keseleo atau salah tidur hingga tanganku agak berat di angkat. Aku biarkanlah tanganku itu.
Sesampainya di Sekolah, aku kembali merasakan beban di tanganku yang semakin menjadi. Semakin aku masuk ke dalam Sekolah, semakin beratlah tanganku. Allahu Ya Rabb……… Engkau berikan NikmatMu sepagi ini. Alhamdulillah… batinku terus mencoba berpikiran positif dan menghilagkan prasangka buruk. Ahh….. Ya Allah… aku memang selalu Membutuhkan Engkau.
Tak lama kemudian, guruku menyarankan ku untuk ke Abah (seorang yang ahli agama di Sekolahku) dan aku di berikannya air zam zam. Sisanya di usapkan ke tangan kananku yang sakit. Saat di usapkan, ingin rasanya bibirku berteriak! AAAAAAAAAAAAAAAAAAA YA ALLAH…… DEMI ENGKAU!! SAKIIITTTT…… aku berteriak di dalam hati. Lidahku seperti membeku sejenak sehingga tak kuasa untuuk berteriak. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….
Ternyata, tak terduga olehku, di tangan kananku memang seperti ada yang ‘menduduki’ atau ‘mengelantungiku’ Ya Rabb….. mengapa hamba Ya Rabb… setelah itu, aku kembali ke kelas. Melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Tanganku? Masih sakit. Masih berat. Seperti ada orang lain yang tak tampak menggenggam tangan kananku. Dalam hatiku, aku terus berdzikir dan meminta ampun kepadaNya. Astagfirullah………
Di balik kejadian itu, aku mengintropeksi diriku. Menggali kesalahan yang terjadi hingga membuatku mengalami hal itu. Ternyata… aku menemukannya. Memang, manusia sering kali terlampau lupa bahkan melupakan Nikmat Yang Dia Berikan. Terlampau MELUPAKAN apa yang telah ia punya dan SERING KALI tidak bersyukur. Astagfirullahaladzim……… Astagfirullahaladzim………









